Tauhid

Fatwa

Nasehat

Recent Posts

✅๐Ÿ“– PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 4⃣)

Mei 05, 2019 Add Comment
✅๐Ÿ“– PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 4⃣)
—---------------------—

✳️ HADITS PERTAMA (Lanjutan Pertemuan Sebelumnya...)
๐Ÿ“ก (Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

.....

๐Ÿ”˜ LANJUTAN FAEDAH HADITS:

5⃣ Kata “Laki-laki” dalam hadits, tidak menunjukkan pengkhususan kaum pria saja. Karena syari’at ini pada asalnya berlaku untuk kaum laki-laki dan perempuan, kecuali jika didapatkan dalil yang mengkhususkan. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)

6⃣ Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, hadits ini mengisyaratkan lemahnya riwayat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu yang berbunyi;
ุฅِุฐَุง ุงู†ْุชَุตَูَ ุดَุนْุจَุงู†ُ، ูَู„َุง ุชَุตُูˆู…ُูˆุง
“Jika bulan Sya’ban tersisa separuhnya, maka janganlah kalian berpuasa!” (Hadits riwayat Ahmad no.9707, At-Tirmidzi no.738, Abu Dawud no.2337, Ibnu Majah no.1651, An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubro no.2923, dan selainnya.)

‼️ Hadits di atas diingkari oleh Imam Ahmad Rohimahullah. (akan tetapi) Sebagian ulama yang lain menshohihkan atau menghasankannya. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/171)

๐ŸŒทImam Ahmad mengatakan, “Ini adalah hadits mungkar. Abdurrahman bin Mahdi tidak pernah menyampaikan kepada kami hadits ini; karena berseberangan dengan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anhuma. (Masail Imam Ahmad Riwayat Abi Dawud no.2002 hal.434, Al-Muharrir no.646 hal.378 karyaIbnu ‘Abdil Hadi Rohimahullah)

๐Ÿ”ปHadits ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan;

ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูƒَุงู†َ ูŠَุตُูˆู…ُ ุดَุนْุจَุงู†َ ูƒُู„َّู‡ُ، ูƒَุงู† ูŠَุตُูˆู…ُ ุดَุนْุจَุงู†َ ุฅِู„َّุง ู‚َู„ِูŠู„ًุง

“Bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa pada seluruh bulan Sya’ban; beliau juga berpuasa Sya’ban (1 bulan) kurang sedikit.” (HR. Al-Bukhori no.1970 dan Muslim no.1156-(176), dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha)

๐Ÿ”ปSedangkan Hadits Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan,

ู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุตَุงู…َ ุดَู‡ْุฑَูŠْู†ِ ู…ُุชَุชَุงุจِุนَูŠْู†ِ، ุฅِู„َّุง ุฃَู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ูŠَุตِู„ُ ุดَุนْุจَุงู†َ ุจِุฑَู…َุถَุงู†َ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali tatkala beliau menyambung (puasa) Sya’ban dengan Romadhon.” (HR. Ahmad no.265652, At-Tirmidzi no.736, An-Nasa`i no.2175, Dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahullah dalam Mukhtashor Asy-Syamail no.255, Shohih At-Targhib wat Tarhib no. 1025, Shohih Ibni Majah no.1648)

Wallahu A’lamu bisshowab


✅(Bersambung Insya Allah,...)

๐ŸŒ Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.

#ahkamshiyam #puasaramadhan #kitabshiyam

〰〰➰〰〰
๐Ÿ‰ Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
๐Ÿ Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
๐Ÿ’ป Situs Resmi http://www.warisansalaf.com/

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 3⃣)

April 27, 2019 Add Comment
✅๐Ÿ“– PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 3⃣)
—---------------------—
✳️ HADITS PERTAMA (Lanjutan Pertemuan Sebelumnya...)
๐Ÿ“ก (Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)
.....
๐Ÿ”˜ Faedah-Faedah Hadits:
—---------------------—
1⃣ Di dalam hadits ini terkandung larangan berpuasa sehari atau dua hari di akhir bulan Sya’ban, menjelang bulan Romadhon.
๐Ÿ”ปSifat larangan tersebut diperselisihkan para Ulama. Sebagian mereka menyatakan haram, sebagian yang lain menyatakan makruh (di bawah tingkatan haram).
๐ŸŒทPendapat yang dikuatkan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah adalah yang menyatakan makruh. (Catatan: beliau pernah berpendapat haram).
๐Ÿ”ปNamun apabila bertepatan dengan hari Syak (*) hukumnya haram. (Berdasarkan hadits ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu; setelah hadits ini insya Allah).
(*) Hari Syak terjadi pada tanggal 30 Sya'ban; yaitu hari yang diragukan, tidak bisa dipastikan apakah Romadhon telah masuk atau belum. Penyebabnya, hilal tidak terlihat pada sore 29 Sya’ban karena tertutup mendung, debu (asap), gunung, atau sesuatu; berdasarkan pendapat terpilih.
๐Ÿ”ปJika langit cerah pada sore tanggal 29 tapi hilal tidak terlihat; maka puasa tanggal 30 Sya'ban hukumnya makruh. Wallahu A’lam (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/171 & 174)
2⃣ Larangan di dalam hadits berlaku untuk seluruh umat Islam. Walaupun konteks larangan ditujukan kepada Shahabat. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/169)
3⃣ Adanya Rukhshoh (atau keringanan) bagi orang yang rutin (terbiasa) melakukan puasa tertentu, untuk berpuasa pada dua hari terakhir bulan Sya’ban. (Taudhihul-Ahkam 3/132)
4⃣ Lafadz perintah menunjukkan pembolehan, jika konteksnya berlawanan dengan larangan. Misal perintah dalam hadits “lakukanlah puasa tersebut!”, karena perintah tersebut didahului dengan larangan, maka maknanya sekedar pembolehan untuk berpuasa. Wallahu A’lam. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)
Wallahu A’lamu bisshowab
✅(Bersambung Insya Allah,...)
๐ŸŒ Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.
๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
#ahkamshiyam #puasaramadhan #kitabshiyam
〰〰➰〰〰
๐Ÿ‰ Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
๐Ÿ Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
๐Ÿ’ป Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 2⃣)

April 27, 2019 Add Comment
✅๐Ÿ“– PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 2⃣)
—---------------------—

✳️ HADITS PERTAMA
๐Ÿ“ก (Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ - ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ - ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงَู„ู„َّู‡ِ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ู„َุง ุชَู‚َุฏَّู…ُูˆุง ุฑَู…َุถَุงู†َ ุจِุตَูˆْู…ِ ูŠَูˆْู…ٍ ูˆَู„َุง ูŠَูˆْู…َูŠْู†ِ, ุฅِู„َّุง ุฑَุฌُู„ٌ ูƒَุงู†َ ูŠَุตُูˆู…ُ ุตَูˆْู…ًุง, ูَู„ْูŠَุตُู…ْู‡ُ - ู…ُุชَّูَู‚ٌ ุนَู„َูŠْู‡ِ

Dari Shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

‼️ “Jangan kalian dahului Romadhon dengan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya), kecuali (bagi) seorang lelaki yang rutin melakukan amalan puasa tertentu; lakukanlah puasa tersebut” (Muttafaqun ‘alaih)

〰〰〰〰

✳️ TAKHRIJ HADITS:
๐Ÿ”— Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori no.1914 , Muslim no.1082-(21), Ahmad no.7200, 8575, 9287, 10184, 10662, 10755, Abu Dawud no.2335, At-Tirmidzi no.685, An-Nasa`i no.2173, 2190, Ibnu Majah no.1650 , dan selain mereka.

✳️ MAKNA HADITS
๐Ÿ”— Di dalam hadits ini Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melarang kita (umat Islam) untuk berpuasa sehari atau dua hari menjelang bulan Romadhon, kecuali seseorang yang rutin (*) melakukan amalan puasa tertentu, maka boleh baginya untuk berpuasa pada dua hari tersebut.

(*) Maksud “Rutin” adalah; “Terbiasa melakukan puasa tersebut.” 》[Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin; dalam Fathu Dzil-Jalal 3/169]

๐Ÿ”ฐMisalnya:
๐Ÿ”ปSeorang yang rutin berpuasa tiga hari setiap bulan yang bertepatan dengan tanggal 27, 28, 29 (menjelang Romadhon); maka yang seperti tidak mengapa.
๐Ÿ”ปAtau Seseorang yang rutin berpuasa Senin-Kamis, dimana hari Kamis nya jatuh pada tanggal 29 Sya’ban; yang seperti ini juga boleh; tidak mengapa.
๐Ÿ”ปAtau Puasa Qodho` (membayar hutang puasa Romadhon tahun lalu) tepat sebelum masuk bulan Romadhon; yang seperti ini juga boleh, bahkan hukumnya wajib (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)


Wallahu A’lamu bisshowaab

☑️ (Bersambung Insya Allah,...)

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.

#ahkamshiyam #puasaramadhan #kitabshiyam

〰〰➰〰〰
๐Ÿ‰ Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
๐Ÿ Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
๐Ÿ’ป Situs Resmi http://www.warisansalaf.com/

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 1⃣)

April 27, 2019 Add Comment
✅๐Ÿ“– PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 1⃣)
—---------------------------------—
๐Ÿ“—Mukaddimah
—---------------
๐Ÿ”˜Pengertian Shiyam (Puasa)
—------—
๐Ÿ”ปDi dalam istilah syari’at, Shiyam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari pembatal-pembatalnya (*), sejak terbit fajar Shubuh hingga tenggelamnya matahari.
(*) Pembatal-pembatal shiyam akan dibahas pada tempatnya, insya Allah.
๐Ÿ”ปDalam bahasa Arab, Shiyam (disebut pula dengan Shaum); artinya “menahan”. 》[Lihat Fathu Dzil-Jalali wal-Ikrom 3/165; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah]
๐Ÿ”ปKata Shiyam dan Shaum, telah tercantum di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia); pada kata (Siam dan Saum) tanpa huruf ‘h’ yang berarti puasa, walhamdulillah.
๐Ÿ”˜Hukum Shiyam
—------—
๐Ÿ”ปAdalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah (yang telah akil baligh), untuk berpuasa di bulan Romadhon.
๐ŸŒทLandasan hukumnya adalah perintah Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqoroh ayat 183,
ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ูƒُุชِุจَ ุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงู„ุตِّูŠَุงู…ُ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa,...”
๐Ÿ”ปDan perintah Rasul-Nya,
ุฅِุฐَุง ุฑَุฃَูŠْุชُู…ُ ุงู„ู‡ِู„ุงู„َ ูَุตُูˆู…ُูˆุง
“Jika kalian melihat hilal (bulan Romadhon), berpuasalah kalian!”
》[HR. Al-Bukhori no.1900 dan Muslim no.1080, Dari Shahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma; dengan lafadz Muslim]
๐Ÿ“ŒBahkan Shiyam Romadhon termasuk rukun Islam yang lima. 》[Lihat HR. Al-Bukhori no.8 dan Muslim no.16, dari Shahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma]
๐Ÿ”˜Hukum Meninggalkan Puasa Romadhon
—-------------
๐Ÿ”ปAsy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, "Barangsiapa hidup di tengah-tengah kaum muslimin dan mengingkari kewajiban puasa Romadhon, maka dia telah kafir. Karena dia mengingkari perkara yang telah jelas hukumnya di dalam agama Islam."》[Lihat Al-Fath 3/165]
๐Ÿ”ฐPara ulama berbeda pendapat, tentang hukum orang yang meninggalkan puasa Romadhon karena tahawun (meremehkan pelaksanaannya). Pendapat yang kuat adalah tidak dikafirkan. 》[Lihat Al-Fath 3/165-166; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah]
๐Ÿ‘ Semoga kita dimudahkan Allah Ta'ala untuk melaksanakan kewajiban Shiyam Romadhon dengan penuh keimanan, mengharap balasan kebaikan dari sisi Allah ‘Azza waJalla. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin
✅(Bersambung Insya Allah,...)
๐ŸŒ Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.
๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
〰〰➰〰〰
๐Ÿ‰ Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
๐Ÿ Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
๐Ÿ’ป Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Dahsyatnya Kalimat "Insyaallah"

Januari 31, 2019 Add Comment


ูˆَู„َุง ุชَู‚ُูˆู„َู†َّ ู„ِุดَุงูۡ‰ْุกٍ ุฅِู†ِّู‰ ูَุงุนِู„ٌ ุฐَٰู„ِูƒَ ุบَุฏًุง
ุฅِู„َّุงٓ ุฃَู† ูŠَุดَุงุٓกَ ูฑู„ู„َّู‡ُۚ ......

Terjemah Indonesian
Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,”
kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.”........
( QS. AlKahfi (18) ayat 23-24 )

Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad Telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ayyub dari Muhammad dari Abu Hurairah, bahwa Nabiyullah Sulaiman 'alaihimassalam mempunyai enam puluh isteri dan berkata, "Sungguh, malam ini aku akan menggilir isteri-isteriku sehingga masing-masing isteriku hamil dan melahirkan seorang penunggang kuda yang berperang fi sabilillah.' Lantas Sulaiman menggilir isteri-isterinya, namun sama sekali tidak ada yang hamil selain satu orang isteri yang melahirkan separoh orang. Maka Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Kalaulah Sulaiman mengucapkan 'insya allah', niscaya setiap isterinya hamil dan melahirkan seorang anak yang berperang fi sabilillah."

ุญَุฏَّุซَู†َุง ู…ُุนَู„َّู‰ ุจْู†ُ ุฃَุณَุฏٍ ุญَุฏَّุซَู†َุง ูˆُู‡َูŠْุจٌ ุนَู†ْ ุฃَูŠُّูˆุจَ ุนَู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฃَู†َّ ู†َุจِูŠَّ ุงู„ู„َّู‡ِ ุณُู„َูŠْู…َุงู†َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ุณَّู„َุงู… ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุณِุชُّูˆู†َ ุงู…ْุฑَุฃَุฉً ูَู‚َุงู„َ ู„َุฃَุทُูˆูَู†َّ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉَ ุนَู„َู‰ ู†ِุณَุงุฆِูŠ ูَู„ْุชَุญْู…ِู„ْู†َ ูƒُู„ُّ ุงู…ْุฑَุฃَุฉٍ ูˆَู„ْุชَู„ِุฏْู†َ ูَุงุฑِุณًุง ูŠُู‚َุงุชِู„ُ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَุทَุงูَ ุนَู„َู‰ ู†ِุณَุงุฆِู‡ِ ูَู…َุง ูˆَู„َุฏَุชْ ู…ِู†ْู‡ُู†َّ ุฅِู„َّุง ุงู…ْุฑَุฃَุฉٌ ูˆَู„َุฏَุชْ ุดِู‚َّ ุบُู„َุงู…ٍ ู‚َุงู„َ ู†َุจِูŠُّ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู„َูˆْ ูƒَุงู†َ ุณُู„َูŠْู…َุงู†ُ ุงุณْุชَุซْู†َู‰ ู„َุญَู…َู„َุชْ ูƒُู„ُّ ุงู…ْุฑَุฃَุฉٍ ู…ِู†ْู‡ُู†َّ ูَูˆَู„َุฏَุชْ ูَุงุฑِุณًุง ูŠُู‚َุงุชِู„ُ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ
Terjemahan Hadis Riwayat Bukhari
No. Hadist: 6915 Shahih Bukhari, 77 - Buku Tauhid ; Bab: Kehendak dan keinginan.

Faedah :
Maka, seyogyanya seorang muslim dan muslimah untuk Selalu mengucapkan Kalimat "INSYAALLAH" ketika berjanji akan melakukan sesuatu diwaktu yang akan dan belum terjadi.

Akankah Diri Kita Terus Menerus Melakukan Dosa ?-Tafsir Surat Al-An'am (6:120)

Januari 21, 2019 Add Comment
ูˆَุฐَุฑُูˆุงۡ ุธَٰู‡ِุฑَ ูฑู„ْุฅِุซْู…ِ ูˆَุจَุงุทِู†َู‡ُ‌ูˆٓۚ ุฅِู†َّ ูฑู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَูƒْุณِุจُูˆู†َ ูฑู„ْุฅِุซْู…َ ุณَูŠُุฌْุฒَูˆْู†َ ุจِู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุงۡ ูŠَู‚ْุชَุฑِูُูˆู†َ 

Indonesian - Bahasa
Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang yang mengerjakan (perbuatan) dosa kelak akan diberi balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.
Q.S Al-An'am (6:120)

Penjelasan Ayat :

(Wahai manusia), tinggalkanlah semua perbuatan maksiat, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat maksiat akan ditimpakan siksa kepada mereka karena dosa-dosa yang mereka kerjakan itu.

Allah melarang kaum Muslimin berbuat dosa, baik yang tampak dalam perilaku maupun yang tersembunyi. Dosa-dosa yang tampak ialah yang dilakukan oleh manusia dengan mempergunakan anggota badannya, sedang dosa-dosa yang tersembunyi ialah yang tercermin dalam sikap dan hal lain yang tidak ditampakkan (perbuatan buruk yang disembunyikan), seperti menyombongkan diri, merencanakan kejahatan dan penipuan kepada manusia. Allah menyatakan dengan tegas, bahwa semua dosa harus ditinggalkan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi dan Allah memberikan ancaman bahwa siapa pun yang berbuat dosa akan ditimpa siksaan yang berat, sebagai akibat dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, dengan cara sengaja dan terang-terangan. Adapun orang-orang yang berbuat dosa dan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka berhenti dengan melaksanakan tobat yang sungguh-sungguh, maka terhadap mereka, Allah akan memberikan ampunan dan menghapus dosa-dosanya, karena mereka telah berbuat kebajikan sebagai bukti tobatnya. Sebenarnya setiap kebaikan dapat menghilangkan kejahatan, sebagaimana difirmankan Allah: Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. (Hud/11: 114)

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
ูˆَุฐَุฑُูˆุงْ ุธَุงู‡ِุฑَ ุงู„ุงِุซْู…ِ ูˆَุจَุงุทِู†َู‡ُ
Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi.
Makna yang dimaksud ialah perbuatan maksiat secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Menurut riwayat lain yang bersumberkan darinya, makna yang dimaksud ialah niat yang menggerakkannya untuk melakukan dosa.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: 
ูˆَุฐَุฑُูˆุงْ ุธَุงู‡ِุฑَ ุงู„ุงِุซْู…ِ ูˆَุจَุงุทِู†َู‡ُ
Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi. (Al An'am:120) Yaitu dosa yang tersembunyi dan yang terang-terangan, yang sedikit dan yang banyak.

Menurut As-Saddi, dosa yang tampak ialah berbuat zina dengan pelacur-pelacur yang dilokalisasi, sedangkan dosa yang tersembunyi ialah berbuat zina dengan kekasih (yang belum dikawini), teman, dan gundik.

Menurut Ikrimah, dosa yang tampak ialah mengawini wanita yang masih ada kaitan mahram.

Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini mengandung makna yang umum mencakup keseluruhannya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
ู‚ُู„ْ ุฅِู†َّู…َุง ุญَุฑَّู…َ ุฑَุจِّูŠَ ุงู„ْูَูˆَุญِุดَ ู…َุง ุธَู‡َุฑَ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَู…َุง ุจَุทَู†َ
Katakanlah, "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.” (Al-A’raf: 33), hingga akhir ayat.

Karena itulah dalam Firman selanjutnya disebutkan:
ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَูƒْุณِุจُูˆู†َ ุงู„ุงِุซْู…َ ุณَูŠُุฌْุฒَูˆْู†َ ุจِู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุงْ ูŠَู‚ْุชَุฑِูُูˆู†َ
<i>Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat) disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.</i>

Baik dosa yang terang-terangan ataupun yang tersembunyi, Allah Swt. pasti akan melakukan pembalasan yang setimpal terhadap para pelakunya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Mu'awiyah ibnu Saleh, dari Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Nafir, dari ayahnya, dari An-Nawwas ibnu Sam'an yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. mengenai definisi dosa. Maka beliau Saw. menjawab melalui sabdanya: 
ุงู„ุงِْุซู…ُ ู…َุง ุญَุงูƒَ ูِูŠ ุตَุฏْุฑِูƒَ ูˆَูƒَุฑِู‡ْุชَ ุฃَู†ْ ูŠَุทَّู„ِุนَ ุงู„ู†َّุงุณُ ุนَู„َูŠْู‡
Dosa itu ialah sesuatu yang terdetik dalam hatimu, sedangkan kamu tidak suka bila orang lain melihatnya.

Oleh karena itu (Dan tinggalkanlah) berhentilah kamu dari melakukan (dosa yang tampak dan yang tersembunyi) maksudnya dosa yang terang-terangan dan dosa yang tersembunyi; dikatakan bahwa yang dimaksud adalah perbuatan zina; dan dikatakan lagi adalah semua perbuatan maksiat. (Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan) pada hari kiamat (disebabkan apa yang telah mereka kerjakan) usahakan.

Referensi:
1. Tafsir ibn Kathir -Ind
2. Tafsir Al Muyassar -Ind
3. Tafsir Kemenag RI -Ind
4. Tafsir Jalalayn -Ind
5. https://goo.gl/w6rESk

Kajian Tauhid Dan Realisasinya Dalam Hidup

Januari 14, 2019 Add Comment
๐Ÿ“  Tauhid dan korelasi kemudahan dalam memahaminya
-----------
Tauhid itu secara umum artinya,
ุฅูุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุจู…ุง ูŠุฎุชุต ุจู‡
"Menunggalkan atau mengesakan Allah subhaanahu wa ta'ala, pada apa-apa yang merupakan kekhususan bagi Nya"
Baik itu yang merupakan kekhususan dalam masalah rububiyah Nya, uluhiyah Nya, atau nama nama dan sifat sifat Nya (asma wa sifat).
****
PERTAMA
Adapun ta'rif (definisi) dari tauhid dalam masalah rububiyah itu adalah,
ุฅูุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจุฃูุนุงู„ู‡
"Menunggalkan atau mengesakan Allah subhaanahu wa ta'ala, dalam masalah perbuatan-perbuatan Nya"
Seperti mengesakan Allah dalam masalah penciptaan Nya, bahwa Allah lah satu satunya yang menciptakan makhluq Nya.
Mengesakan Allah dalam masalah rizqi Nya, bahwa Allah lah satu satunya yang memberikan rizqi kepada makhluq Nya.
Mengesakan Allah dalam masalah kekuasaan Nya, bahwa Allah lah satu satunya yang maha berkuasa atas segala sesuatu.
Mengesakan Allah dalam masalah pengaturan Nya, menghidupkan dan mematikan Nya. Bahwa Allah lah satu satunya yang mengatur segala sesuatu. Satu satunya yang menghidupkan dan mematikan.
Dan lain sebagainya yang berkaitan dengan perbuatan perbuatan Allah.
Maka dari itulah disebut sebagai rububiyah. Karena rububiyah itu secara makna berarti mengatur, menciptakan, menguasai, memelihara, memiliki, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan perbuatan perbuatan Allah.
Rububiyah itu sendiri berasal dari kata "Rabb" yang berarti pengatur, penguasa, raja, yang memiliki, dan banyak lagi arti yang terkandung di dalam kata Rabb itu.
Sehingga secara mudahnya tauhid rububiyah itu diberi makna mengesakan Allah dalam segala macam perbuatannya. Karena perbuatan Allah itu banyak, dan terungkap dalam kata Rabb yang memiliki arti serta konsekuensi yang banyak juga.
***
KEDUA
Sekarang masalah tauhid dalam uluhiyah.
Ta'rif (definisi) dari tauhid dalam masalah rububiyah itu adalah,
ุฅูุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจุงู„ุนุจุงุฏุฉ
"Menunggalkan atau mengesakan Allah subhaanahu wa ta'ala, dalam masalah ibadah"
Bisa juga kita katakan, mengesakan Allah di dalam masalah haq Nya. Karena haq Allah itu adalah disembah dan diibadahi, setelah kita mengetahui rububiyah Allah, nama nama Nya, dan Sifat sifatnya yang tinggi lagi mulia.
Ini sebagaimana hadits Muadz berikut ini,
ูŠَุงู…ُุนَุงุฐُ ، ุฃَุชَุฏْุฑِูŠْ ู…َุง ุญَู‚ُّ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ، ูˆَู…َุง ุญَู‚ُّ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ؟
ู‚ُู„ْุชُ : ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ุฃَุนْู„َู…ُ ؛
ู‚َุงู„َ : ุญَู‚ُّ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ุฃَู†ْ ูŠَุนْุจُุฏُูˆْู‡ُ ูˆَู„َุง ูŠُุดْุฑِูƒُูˆْุง ุจِู‡ِ ุดَูŠْุฆًุง
ูˆَุญَู‚ُّ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ุฃَู†ْ ู„َุง ูŠُุนَุฐِّุจَ ู…َู†ْ ู„َุง ูŠُุดْุฑِูƒُ ุจِู‡ِ ุดَูŠْุฆًุง
Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam bersabda,
"Wahai Muadz, apakah engkau mengetahui apa hak Allah terhadap para hamba Nya dan para hamba Nya kepada Allah?
Aku (Muadz) menjawab,
"Allah dan Rasul Nya yang lebih mengetahui"
Rasulullah kemudian berkata,
"Hak Allah terhadap para hamba Nya itu adalah hendaklah Dia saja yang diibadahi, dan tidak disyirikkan (disekutukan) dengan segala sesuatu apapun dalam masalah ibadah itu.
Dan hak para hamba Nya kepada Allah adalah, Allah tidak akan mengadzab hamba Nya yang tidak mensyirikkan Nya dengan sesuatu apapun. "
[Hr. Bukhari Muslim]
Karena ibadah itu luas cakupannya, baik itu yang berupa ibadah hati (seperti tawakal, ikhlas, dll) dan ibadah badan (yang terlihat).
Ataupun ibadah khusus seperti wudhu, Sholat, doa, kurban, zakat, puasa, haji, dan semisal. Dan ibadah umum seperti berakhlak baik dan berbuat baik kepada orang lain demi mengharapkan pahala dari Allah.
Maka ada juga yang mendefinisikan tauhid uluhiyah ini dengan,
ุฅูุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจุฃูุนุงู„ ุงู„ุนุจุงุฏ
"Menunggalkan atau mengesakan Allah dengan perbuatan perbuatan para hamba Nya"
Kira-kira sudah faham kan korelasi dan maksudnya?
Adapun uluhiyah itu sebenarnya berasal dari kata "ilah", yang artinya yang disembah. Uluhiyah ini sama artinya dengan Ubudiyah. Ubudiyah itu dari ibadah, artinya peribadahan.
Jadi ma'luh (yang disembah) itu sama dengan ma'bud (yang diibadahi). Tauhid Uluhiyah itu sama saja dengan Tauhid Ubudiyah, hanya beda penggunaan kata namun artinya sebenarnya sama.
Adapun kalimat thoyyibah atau kalimat tauhid "laa ilaaha illallooh" itu memang secara definisi lebih mengacu kepada hak Allah. Lebih mengacu kepada tauhid uluhiyah ini. Namun ini tidak berarti jenis Tauhid lainnya itu tidak penting lho.
Semuanya penting, saling berkorelasi, dan terintegrasi jadi satu. Hanya saja manusia kadang lebih sering tergelincir di dalam masalah haq Allah, peribadahan, dibandingkan tergelincir pada jenis tauhid yang lain.
Namun ini bukan berarti yang tergelincir pada jenis tauhid yang lain tidak ada lho. Ada juga dan banyak. Orang yang menganggap ada wali yang ikut mengatur alam semesta itu misalnya. Itu berarti dia sudah tergelincir di dalam tauhid rububiyah, dan dia sudah melakukan kesyirikan rububiyah juga.
Takut sama yang mbaurekso, bisa memberikan manfaat dan tolak bala. Ini juga syirik rububiyah.
Hanya saja orang yang mengakui bahwa Allah itu yang mencipta, mengatur, memberi rizki, tapi menyerahkan bentuk ibadah seperti doa, sajen, larung, puasa, kurban penyembelihan kepada selain Allah itu umumnya lebih banyak.
Dan orang orang yang mengalami penyimpangan tauhid rububiyah umumnya juga akan mengalami penyimpangan tauhid uluhiyah.
***
KETIGA
Sekarang masalah tauhid dalam masalah nama nama dan sifat sifat Allah, atau yang lebih sering disebut tauhid asma' wa shifat.
Ta'rif (definisi) dari tauhid dalam masalah asma' wa shifat itu adalah,
ุฅูุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุจู…ุง ุณู…ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ู†ูุณู‡ ูˆูˆุตู ุจู‡ ู†ูุณู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุฃูˆ ุนู„ู‰ ู„ุณุงู† ุฑุณูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…
"Menunggalkan atau mengesakan Allah subhaanahu wa ta'ala dengan nama-nama yang Allah telah menamakan diri Nya sendiri dengan itu, dan juga dengan sifat sifat yang Allah telah mensifatkan diri Nya sendiri dengan itu.
Sebagaimana yang Allah sebutkan sendiri di dalam kitab Nya (Al Qur'an), dan yang dikabarkan melalui lisan Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam"
Jadi intinya adalah, pada dasarnya Allah lah yang mengenalkan dan menjelaskan mengenai Dirinya sendiri melalui perantara wahyu dan Rasul utusan Nya.
Allah bukanlah tuhan yang didefinisikan berdasarkan kebudayaan, seni, dan filsafat logika manusia.
Maka dari itulah Islam disebut sebagai agama wahyu. Dan tidak disebut sebagai agama hasil kebudayaan, filsafat, dan hasil pemikiran seseorang.
Allah lah yang menurunkan wahyu dari langit yang tertinggi untuk mengenalkan dan menjelaskan mengenai dirinya, nama namanya, dan sifat sifatnya kepada para makhluq dan hamba Nya.
Agar makhluq Nya mengenali dirinya, namanya, dan sifat sifatnya sehingga makhluk Nya tidak salah dalam mengenali Tuhan sesembahannya. Tidak salah memberikan hak peribadahan kepada false God. Dan tidak salah dalam memahami perbuatan perbuatan rubiyah yang ada di alam semesta ini.
Inilah dasar dari agama wahyu ini dalam masalah tauhid ini.
*
Sekarang bagaimana kita memahami nama-nama dan sifat sifat Allah yang tercantum dalam wahyu dan pengkabaran Rasul Nya itu?
Yakni kita men tauhid kan nama dan sifat Nya dengan cara,
ุจุฅุซุจุงุช ู…ุง ุฃุซุจุชู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุชุญุฑูŠู، ูˆู„ุง ุชุนุทูŠู„، ูˆู…ู† ุบูŠุฑ ุชูƒูŠูŠู، ูˆู„ุง ุชู…ุซูŠู„
"Dengan cara menetapkan apa yang telah Allah tetapkan baginya dengan tanpa merubah rubah maknanya. Dengan tidak berusaha untuk menihilkan dan meniadakan nama dan sifat itu. Dan juga dengan tidak menanyakan bagaimana hakikatnya ataupun mempermisalkannya dengan nama dan sifat makhluq".
Intinya, pokoknya kita harus beriman dan menetapkan sesuai dengan wahyu yang Allah turunkan dan hadits yang Rasulullah kabarkan mengenai nama-nama dan sifat sifat Allah.
Kita memahami makna kata yang Allah sebutkan, seperti Ar Rahiim yang artinya maha penyayang. Namun kita tidak menyamakan derajat kasih sayang Allah sama seperti derajat kasih sayang yang ada pada makhluq Nya.
Kita memahami dhohir makna nama dan sifat yang Allah sebutkan dalam mensifati diri Nya sendiri. Akan tetapi kita menyerahkan hakikatnya sesuai dengan ke maha sucian dan ketinggian Allah, yang tidak sama dengan makhluq Nya.
Demikianlah karakteristik agama wahyu itu.
*
Sekarang apa sih bedanya nama nama Allah dan sifat sifat Allah?
Bukankah nama nama Allah itu umumnya merupakan nama sifat, seperti Ar Rozzaq yang Maha memberikan rezeki, Al Hayyu yang Maha Hidup, dan yang semisal?
Ya benar, nama nama Asmaul Husna itu memang nama nama yang terbentuk dari sifat sifat Allah. Akan tetapi tidak semua sifat sifat Allah itu menjadi nama Allah.
Sampai sini semoga faham.
Jadi sifat sifat Allah itu lebih luas dan lebih banyak dibandingkan nama nama Allah. Ada sifat Allah yang kemudian menjadi nama Allah, dan ada juga yang tidak.
Sifat Allah itu juga dibagi menjadi dua :
Satu, Sifat Af'aliyah atau sifat perbuatan-perbuatan Allah. Yang mana ini terserah kepada Allah apakah Allah akan melakukan perbuatan itu ataukah tidak.
Dan yang kedua adalah sifat dzatiyah. Sifat yang selalu melekat dan ada pada Allah.
Misal, Allah memiliki sifat mengadzab dan memberikan hukuman keras kepada hamba Nya yang berbuat dosa dan kemaksiatan. Yang mana ini adalah sifat Af'aliyah Allah.
Namun apakah Allah kemudian memiliki nama "yang maha mengadzab" ? Tidak bukan?
Nah inilah maksudnya sifat sifat Allah itu lebih luas dan lebih banyak dibandingkan nama nama Allah. Ada sifat Allah yang kemudian menjadi nama Allah, dan ada juga yang tidak.
***
Jadi dari ketiga penjelasan mengenai macam macam jenis tauhid tadi, ada ulama yang kadang fokus membikin kitab dan tulisan yang menjelaskan mengenai kemaha besaran Allah. Mu'jizat ayat ayat Allah melalui pembuktian kacamata ilmu pengetahuan.
Nah ini berarti dia sedang fokus menjelaskan tauhid rububiyah Allah.
Ada juga ulama yang menulis kitab mengenai masalah kalimat tauhid laa ilaaha illallooh dan pemurnian ibadah. Bahaya syirik ibadah, bahaya jimat, sihir, dan semisal.
Ini berarti dia sedang fokus menjelaskan mengenai tauhid uluhiyah.
Dan ada juga ulama yang fokus membahas masalah cara memahami sifat sifat dan nama nama Allah, untuk membantah para sastrawan, budayawan, Sufi, dan pemuja filsafat yang seenaknya sendiri mensifati Allah sesuai dengan kecenderungan jiwa dan pikiran mereka.
Ini berarti dia sedang fokus menjelaskan mengenai tauhid asma wa shifat.
Akan tetapi sebenarnya ketiga tiganya itu saling berkorelasi, saling terintegrasi, dan merupakan kesatuan pemahaman yang tidak bisa dipisahkan.
Oleh karena itu jika kita kembali kepada definisi Tauhid umum yang paling awal tadi, kita akan bisa memahami seluruh penjelasan ini.
Sekedar rehearsal untuk mengingatkan kita lagi, maka yang namanya Tauhid itu secara umum artinya adalah :
ุฅูุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุจู…ุง ูŠุฎุชุต ุจู‡
"Menunggalkan atau mengesakan Allah subhaanahu wa ta'ala, pada apa-apa yang merupakan kekhususan bagi Nya"
Sudah terasa korelasi dan kemudahan untuk memahaminya kan sekarang?
***
Sekarang bagaimana kalau ada orang yang ngomong, pembagian tauhid menjadi tiga itu mengada ada dan menyerupai trinitas?
Haha, ini sebenarnya omongan orang yang terbongkar kedok kesyirikan nya.
Pembagian jenis tauhid ini sebenarnya merupakan istiqro', hasil penelaahan para ulama terhadap berbagai dalil yang ada guna memudahkan pemahaman.
Sama seperti rukun dan syarat sholat. Rasulullah tidak pernah menjelaskan syarat sholat itu ini, rukun sholat itu ini secara terperinci. Akan tetapi melalui Istiqro ulama, para ulama menyusun syarat dan rukun sholat itu agar kita benar dan sah dalam melaksanakan sholat dengan cara penjelasan yang mudah.
Jadi ini tujuannya untuk mempermudah pemahaman saja. Mempermudah bagaimana melaksanakan konsekuensi pemahaman itu juga.
Jika antum bisa memahami tauhid secara sempurna dengan tanpa melalui penjelasan dan pembagian jenis jenis tauhid itu maka silakan. Nggak masalah.
Jadi pembagian ini itu lebih berkaitan dengan pembagian wasilah untuk memahami. Bukan pembagian haqiqot yang berbeda beda sebagaimana trinitas.
Hmm, tadi disebutkan bahwa ini adalah omongan orang yang terbongkar kedok kesyirikan nya. Bagaimana itu maksudnya?
Ya karena dengan pembagian ini, memudahkan orang untuk memahami tauhid uluhiyah dalam masalah ibadah dan kesyirikan yang terjadi pada mereka.
Akibatnya mereka merasa terpojok dengan doa, sembelihan, puasa, sholat, yang mereka berikan di makam makam keramat para wali yang jelas merupakan kesyirikan walaupun mereka mengakui tauhid rububiyah bahwa Allah yang memberi rizki, mengatur, dan semisal.
Pembagian tauhid ini juga membongkar kedok kedok khurofat mereka yang menganggap ada wali wali quthub dan semisal yang ikut menguasai alam. Yang memiliki kemampuan menghalangi orang agar tidak masuk neraka, dan semisal. Yang mana ini merupakan syirik rububiyah.
Juga membongkar kedok mereka dalam memahami sifat sifat Allah dengan wihdatul wujud mereka. Manunggaling kawulo gusti. Menyatu dengan hamba Nya dan semisal. Yang mana jelas Allah dan Rasul Nya mengabarkan bahwa dzat Allah itu tinggi di atas langit yang tertinggi. Tidak bersatu dengan makhluq Nya. Dan ber istiwa' di atas Arsy Nya.
Dan secara penghasilan, ehem, ini juga akan membuat pengikut mereka lari dan pundi pundi uang yang mereka dapatkan dari pengikut mereka yang memuja muja mereka juga hilang.
Belum lagi ritual ritual ibadah syirik memuja wali, yang ini akan menghasilkan banyak uang bagi mereka.
Yang jualan jimat nggak laku. Foto foto wali diturunkan karena tidak boleh tabaruk cari berkah. Dan seterusnya.
Tapi umumnya sih ujung ujungnya masalah ekonomi yang terganggu. UUD, duit.
***
Jadi setelah melalui penjelasan yang cukup panjang tadi.
Maka sebenarnya mudah untuk memahami tauhid itu.
Betul?